JAUHARI samalanga

Beranda » ARTIKEL » Bukalah Ruang Untuk Seni Aceh!

Bukalah Ruang Untuk Seni Aceh!

Oleh : Jauhari Samalanga

DSC05314Beberapa moment konser musik di Aceh yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi swasta Jakarta, terbukti tidak mengubah Aceh menjadi daerah kaya kesenian. Kondisinya sama seperti sebelumnya dimana seniman Aceh, terutama penyanyinya gigit jari. Namun, persoalan pentas dan tidak pentasnya artis-artis asal Jakarta itu di Aceh, bukan persoalan utama dalam kajian kali ini, tetapi persoalan kita adalah seberapa besar perhatian penguasa di Aceh dalam melihat konteks Aceh sebagai daerah yang punya konstributor besar terhadap perkembangan  serta pertumbuhan kesenian-kesenian melayu di dunia.

 Sulit sekali untuk dipungkiri bahwa masyarakat Aceh saat ini merupakan masyarakat yang butuh ‘hiburan’, dan untuk memberikan hiburan, apapun yang bersifat musik pentas penonton akan datang, apalagi musik-musik dari artis Jakarta yang selama ini cuma kita kenal lewat media TV, tentu itu punya nilai plus. Namun, pertanyaannya seberapa untung bagi masyarakat? Dan hikmah apa yang bisa masyarakat bawa dengan menonton acara-acara ‘goyang pantat’ yang sekarang lagi trendi itu.

Kalau saja ada sedikit kepercayaan pada seniman lokal, barangkali jauh lebih punya hikmah. Karena ditengah kondisi Aceh yang haus hiburan, kenapa bukan justru kesenian-kesenian Acehlah yang dijadikan simbol dari keinginan yang hendak dicapai, disamping itu akan menjadi salah satu upaya mengangkat kembali martabat kesenian Aceh yang sudah lama hanyut didera konflik.

Saya sangat percaya, apabila kepercayaan itu ada, maka marwah seni Aceh yang sudah tenggelam akan kembali bersinar. Kita tidak lagi cuma mengenal tari yang itu-itu saja, dan kita akan mengenal lebih banyak musik dan kesenian Aceh yang selama ini tersembunyi dipojok-pojok desa di Aceh.  Yang penting, keseniannya diberi ruang untuk ekpose yang cukup, persis seperti mendatangkan artis-artis ibukota yang tidak bagus-bagus amat itu.

Kalaulah kita berandai-andai dengan hadirnya kelompok musik papan atas group Dewa ke Aceh beberapa waktu lalu, ditukar dengan penampilan kelompok-kelompok musik lokal kotemporer, pasti sama saja gregetnya. Apalagi, kembali berandai, kelompok kesenian lokal dibekali dengan dana yang cukup untuk ekspose nasional, pasti group Dewa menjadi kelompok musik yang tidak masuk hitungan. Sekarang persoalannya, masalah kesempatan saja. Kenapa tidak memanfaatkan momentum sekarang ini untuk kembali mengangkat kesenian-kesenian yang ada di Aceh saja, karena saya yakin dan percaya, beberapa kali acara dangdutan yang digelar besar-besaran di Aceh plus kehadiran kelompok musik Dewa, tidak memberi keuntungan yang berarti bagi masyarakat. Dan kitapun menjadi tercengang, sebenarnya seberapa hebatnya sih artis Jakarta itu, dan seberapa hebat pula kelompok musik Dewa itu, sehingga begitu dibesarkan di Aceh?

Saya termasuk orang yang merasa Dewa bukanlah sebuah kelompok musik yang dapat menjadi acuan, karena tolak ukur kesuksesannya itu kan cuma se-Indonesia saja, tidak berarti diperhitungkan di Asia, Eropa dan Amerika. Kalau begitu, apa kelebihan Dewa dibanding sebuah Saman, tak ada. Yang ada adalah bagaimana Dewa menjadi musik Industri yang sangat industri di negeri sendiri.

Kalau sudah demikian, pertanyaan kita menjadi mudah, apa sih untungnya menonton Dewa dan dangdut yang digelar?. Barangkali secara awam kita akan memberi jawaban sederhana pula bahwa sebenarnya keuntungan langsung yang kita dapat adalah tercapainya keinginan kita  melihat langsung Dewa dan artis dangdut lainnya yang selama ini cuma bisa kita lihat lewat infotaimen, clip, dan media-media massa yang terbit di Indonesia saja.  Cuma itu. Padahal, kalau kita mau jujur tidak sedikit masyarakat Aceh yang justru sudah menikmati musik yang jauh lebih baik ketimbang musik dari kelompok Dewa itu. Sebagai contoh bisa kita temui jumlah dari pemakai Receiver satelite, yang secara langsung bisa melihat konser-konser musik berbobot di belahan dunia ini, dan Dewa merupakan kelompok yang biasa-biasa saja, dan diyakini sulit menembus sampai ke tingkat TV Chanel V pun, apalagi untuk dibahas pada majalah musik terkemuka Rolling Stones misalnya.

Ini artinya, hanya masalah kesempatan saja. Di Aceh untuk memperoleh kesempatan seperti artis-artis yang ada di Jakarta sudah pasti sebatas mimpi, lantaran sulitnya menjangkau sarana yang dapat mendukung itu. Persentase keberhasilan di Aceh sangat kecil, dibanding persentase di ibu kota. Namun, apakah kemudian ada karya-karya besar yang lahir, serta berhasil mempengaruhi sebuah kebiasaan. Sulit.

Anggun Cipta Sasmi, misalnya, justru tak bisa menjangkau populeritas dunia dari Indonesia, dia lebih memilih Inggris dan akhirnya menjadi terkenal setelah berhasil dengan albumnya bertajuk ‘Sahara’. Namun perlu digaris bawahi, bahwa sebenarnya artis-artis yang bertebaran di Jakarta, tentu dalam hal ini disebut mayoritas, lebih kepada industri semata, selanjutnya tak ada lagi yang bisa dibanggakan. Inilah sebenarnya alasan yang tepat untuk menolak hiburan-hiburan yang digelar di Aceh tanpa dengan kekuatan lokal. Dan, bagaimana mungkin berbicara kemanusiaan dengan mengusung dangdut-dangdutan—tentu lantaran Dangdut sekarang bukan dengan kualitas tetapi lebih menjual pada goyang— atau musik yang tak punya bobot dunia seperti kelompok Dewa tadi. Lebih dekat lagi kitapun sangat kecewa dengan perkembangan musik nasional ini, lihat saja bagaimana ‘Goyang Dombret’ kemudian menjadi lagu yang sangat populer, dan gara-gara lagu tersebut pula si penyanyinya berhasil menjangkau kemana-mana, dan gara-gara lagu itu pula televisi menjadi laku.

Aceh, bila diberi ruang yang cukup untuk mengembangkan keseniannya, bukan takabur, bisa diyakini akan dapat melahirkan tokoh-tokoh seni yang berkualitas. Setidaknya, kesenian Aceh akan melahirkan tokoh-tokoh yang cepat menyatu dengan dunia, lantaran akar keseniannya cukup kuat dipengaruhi oleh beragam suku bangsa di bumi ini.

Sebagai contoh dapat kita temui pada sejarah masa lalu, dimana seniman Aceh lebih punya ruang dibandingkan dengan kondisi sekarang. Itu sebabnya, pada zaman dulu, seniman-seniman Aceh dapat mencapai puncak dari penghayatan sebuah seni lantas menjadikan mereka sebagai kaum sufistis yang cukup diperhitungkan.

Nama-nama besar seperti Syamsuddin Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin Ar Raniry, Syech Daud Rumy,  Syech Ismail, Syech Pantekulu, dan masih dengan sederet nama lagi, membuktikan bahwa ruang telah melahirkan seniman-seniman Aceh yang banyak membawa pengaruhnya pada perkembangan seni Melayu. Mereka tidak cuma dikenal disepanjang sumatera, tetapi hingga ke jajirah Arab dan Eropa seperti Turki. Dan, sangat luar biasa ketika Hamzah Fansuri kemudian dijadikan bapak pemersatu melayu dunia.

Sekarang, apakah kita masih ragu dengan kemampuan seniman-seniman Aceh. Kita harus yakin dalam darah seniman Aceh juga mengalir jiwa besar untuk membuat karya-karya besar. Cuma, persoalannya sekarang, jarak seniman Aceh yang populer dengan generasi berikutnya sangat jauh, sehingga jarak yang kosong menjadikan karya-karya menjadi beku, sementara karya-karya baru yang lahirpun akhirnya berbeda jauh dengan pendahulunya, lantaran pengaruh yang turun pun berasal dari beraneka tehnologi.

Namun apakah itu berarti hilang? Tidak juga. Aceh sampai sekarang banyak juga melahirkan sastrawan-sastrawan, hanya masalahnya tetap seperti kejadian diatas, yaitu tidak terpenuhinya kesempatan akibat minimnya sarana untuk berekspresi. Kitapun kemudian bertanya-tanya bagaimanakah nasib kesenian yang berada dipelosok Aceh, ini menjadi perlu karena karya-karya besar yang pernah lahir di aceh justru bukan berasal dari pusat kota, melainkan melalui dusun-dusun sehingga karya seni yang lahir mengusung sikap sopan santun yang mantap.

Akibat jauhnya perbedaan jarak ruang antar seniman Aceh, hingga  detik ini baru ada dua jenis karya dalam penulisan kesustraan. Pertama, pada saat masuknya Islam, semua kesenian Aceh seperti Seudati dan Hikayat lebih kepada lirik-lirik syiar. Selesai pekerjaan syiar, masuk pada persoalan perang melawan penjajahan Belanda. Lirik-lirik kesenianpun berubah menjadi masalah ‘peperangan’, dan yang terakhir ini kelihatannya menjadi lirik yang terus dipertahankan sampai sekarang, sementara lirik-lirik yang memuji Allah justru lahir dari komunitas pesantren dan masjid. Tetapi pengaruh Islam juga sangat kuat pada lirik-lirik pengantar perang, semisal Hikayat yang selalu dibuka dengan Alhamdulillah pujo ke rabbi

Tetapi, karya-karya yang lahir itu kemudian tidak sepenuhnya bisa dinikmati oleh masyarakat Aceh, lantaran persoalan-persoalan yang muncul tidak ada ujungnya, yang akhirnya berimbas kepada masyarakat yang tidak leluasa mengambil ruang untuk menikmati karya-karya besar dari senimannya itu.

Maka cukup beralasan apabila sekarang ini tidak ada karya-karya yang mampu menjadi panutan, atau sebagai karya besar dari Aceh. Seniman-seniman tradisi Aceh yang masih berpegang kuat pada dasar-dasar seni islam seperti pada masa lalu yang maju pesat, tidak mendapat ruang yang memadai, sehingga yang terjadi kemudian adalah karya-karyanya itu menjadi penyaksi yang pada akhirnya karya itu baru dianggap sebagai karya besar.

Jarak tadi tentu saja cukup menjadi bukti apabila persoalan konfliklah yang menjadi alasan tidak terbukanya kran bagi seni-seni Aceh yang ada. Selain tidak mendapat kesempatan, tampaknya kesenian Aceh memang menjadi persoalan nomor kesekian, lantaran kecilnya pengaruh untuk bisa dijadikan alternatif  kepentingan politik penguasa.

Padahal, kalau kita ingin jujur, hampir sepanjang sejarah, kesenian Aceh sulit dapat bernafas dengan lega akibat persoalan politik melingkarinya. Dan yang lebih menyedihkan lagi, tidak ada penguasa yang memberikan perhatiannya secara tulus dalam pengembangan seni itu sendiri. Penguasa hanya melihat beberapa wujud seni Aceh saja sebagai bentuk dari khasanah kekayaan yang dimiliki Aceh, sementara ratusan lainnya tertindas akibat ketidak pedulian atau ketidaktahuan penguasa pada pentingnya menjaga kelangsungan dari sebuah tradisi.

Itu sebabnya, mengapa kehadiran kelompok-kelompok musik dari ibukota menjadi tidak penting di Aceh. Rasa dahaga masyarakat pada hiburan, semestinya bisa dimanfaatkan dengan menampilkan kesenian warna lokal, agar generasi Aceh tidak kehilangan identitas dan dapat kembali memahami kekayaan seni yang dia miliki. Untuk kesenian, sebenarnya bukan pada persoalan sumber daya manusianya, tetapi pada masalah bagaimana memberi mereka ruang dengan membantu sepenuhnya penyelenggaraannya, seperti penguasaan media nasional untuk ekspose seni-seni lokal secara terus menerus seperti halnya ekspose yang dilakukan pada kelompok/penyanyi yang berasal dari Jakarta.

Inilah sebenarnya peluang untuk mengajak kembali masyarakat Aceh mengenal keseniannya. Disaat mereka butuh dan haus pada hiburan, mereka didekatkan dengan apa yang selama ini telah hilang dari diri mereka, yaitu rasa ke-Aceh-an mereka. Barangkali kita semua juga mengetahui kalau kesenian-kesenian yang ada di Aceh sangat sulit bergerak, bahkan hampir bisa dipastikan nyaris 80% kesenian Aceh lumpuh total, karena kesenian yang bergerak pada malam hari benar-benar tak dapat dijalankan lagi sehingga pada generasi sekarang perlu waktu untuk mengenalkannya kembali. Inilah saatnya para penguasa di Aceh untuk berbuat bagi rakyat Aceh, memanfaatkan kehausan masyarakat Aceh pada hiburan dengan menyuguhkan kesenian-kesenian Aceh yang ada, dan cukuplah artis-artis asal Jakarta itu menjadi tempelan saja…

Jakarta, 3 Oktober 2003

Serambi Indonesia


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: