JAUHARI samalanga

Beranda » TENTANG AKU » Jauhari Samalanga, Bangkitnya “Nyawoung” Musik Aceh

Jauhari Samalanga, Bangkitnya “Nyawoung” Musik Aceh

1301lam1NYAWOUNG diba eh bukon beubarang/ Jikalon badan teu eh teuhenta/
Umu lhe uroe jih tanpa badan/ Keudeh bak Tuhan lon mohon pinta// Ya
Tuhanku ya Tuhan kamoe/ Izin ulon wo u bak anggota/ Izin pih troh le
nyawoung pih jiwo/ Hinan pih sampo u bak anggota//

Cuplikan lirik lagu di atas menceritakan kerinduan ruh akan jasadnya, yang baru tiga hari terpisah. Ruh memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa agar diizinkan bertemu kembali dengan jasadnya di liang lahat.

Lagu berjudul Nyawoung (Ruh) itu sungguh tepat menggambarkan kerinduan Jauhari Samalanga (37). Kerinduan terhadap bangkitnya gairah seni musik tradisional daerahnya yang sekian lama terkubur akibat kebijakan politik negara.
“Ada kecenderungan di Aceh orang sudah melupakan kekayaan seni musik yang dimiliki. Ketika kebebasan berekspresi dikekang, berbagai aliran musik dari luar dengan leluasa menggerus musik tradisional. Hampir tidak terdengar lagi tabuhan rapa’i dan tiupan serune kale,” ungkap Jauhari yang akrab dengan sapaan Joe.

Jauhari memperkirakan hanya sekitar lima persen dari khazanah seni tradisional Aceh yang tergali selama ini. Selebihnya terancam punah akibat sempitnya ruang untuk bereksplorasi karena konflik bersenjata yang berkepanjangan di Tanah Rencong. Kalaupun ada lagu Aceh yang terdengar, ia hanya bersenandung tentang keindahan alam. Sebutlah di antaranya Bungong Jeumpa yang mulai populer pada era tahun 1980-an.

Maka, bukan kebetulan jika hanya dua tahun setelah status wilayah Aceh sebagai daerah operasi militer (DOM) dicabut pada tahun 1998, Jauhari langsung menangkap peluang dan meluncurkan rekaman album lagu tradisional Aceh.

Lagu-lagu dari album garapan Jauhari dan kawan-kawan kerap dijadikan ilustrasi musik pada tayangan tentang Aceh di televisi. Salah satu yang sudah akrab di telinga adalah Do Do Daidi. Lagu pengantar tidur itu diputar berulang-ulang oleh stasiun Metro TV sejak tsunami menyapu pesisir Serambi Mekkah, 26 Desember 2004.
***
KERINDUAN Jauhari yang akhirnya terobati, bukan tanpa sandungan. Pertengahan November 2003 Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) di bawah Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) menyelisik setiap kaset dan VCD berisi lagu-lagu yang dicurigai berbau propaganda.

Album Nyawoung, produksi pertama Joe Project, dilarang beredar karena salah satu lagunya dianggap “berbahaya”. Liriknya menyinggung beberapa peristiwa berdarah di Aceh, mulai dari mayat-mayat yang dibuang di Sungai Arakundo, tragedi Simpang KKA, pembantaian Teungku Bantaqiah, hingga penyiksaan di Rumah Geudong.

“Saya sangat kecewa,” ujar Jauhari menarik napas. “Ketika kita menyenandungkan sesuatu yang benar terjadi, apakah itu salah? Siapa yang mengingkari fakta dari serangkaian peristiwa itu? Mengapa muncul ketakutan berlebihan, padahal kami hanya bermaksud mendokumentasikan sejarah?”

Baru pada September 2004 album kaset itu muncul kembali. Sepintas tidak ada yang berubah. Namun, jika diamati secara saksama, pada bagian bawah sampulnya tertera lambang Provinsi NAD dengan kalimat “Syair dan lagu telah diteliti Tim Bapfida-Badan Pembinaan Perfilman Daerah-Provinsi NAD. Izin Edar No 484/02/III/BFD/2004”. Tidak ada lagi lagu Haro Hara (Huru-hara) dalam kaset itu, dan track-nya diisi lagu Troh Bak Watee (Telah Tiba Saatnya), yang diambil dari album kedua, Bungong.

Menurut Jauhari, jika kedua album itu mendapat sambutan luas di masyarakat, itu bukan karena liriknya yang meneriakkan heroisme, tetapi karena masyarakat Aceh memang telah lama kehilangan ruh musik Aceh.

“Membuat kaset macam begini, dalam istilah orang Aceh, ngeri-ngeri sedap. Ada kenikmatan, tetapi rasa ngeri akan ancaman juga selalu ada,” ujarnya. Apa pun itu, Jauhari tetap bertekad suatu hari nanti Haro Hara kembali menempati track semula.

Jauhari terdiam sejenak. “Master copy album Nyawoung yang orisinal ikut tertelan tsunami di Banda Aceh,” ucapnya lirih. Bersyukur, seluruh pemusik dan penyanyi pendukung album itu selamat dari bencana yang merenggut lebih dari 100.000 jiwa orang Aceh.
***

MEMBACA nama belakangnya, orang akan menyangka Jauhari lahir di Samalanga, Aceh Utara. Padahal, lulusan Institut Ilmu Sosial dan Politik (IISIP) Jakarta itu lahir (19 Januari 1968) dan dibesarkan di Takengon, Aceh Tengah.

Ia hanya tiga tahun menetap di Samalanga, semasa melanjutkan sekolah di SMA. “Samalanga dikenal sebagai kota santri. Saya bangga memakai nama belakang Samalanga,” ujar ayah dari Tiara Miftahuljannah (4) dan Tarina Seulanga (1), hasil pernikahannya dengan Elmini Sembiring.

Kecintaannya terhadap kesenian Aceh bersemi sejak remaja, seiring dengan kesenangannya menulis artikel tentang kebudayaan di koran Serambi Indonesia. Bakat menulisnya ia salurkan dengan menerbitkan tabloid Asasi di Lhok Seumawe pada tahun 1998. Pada kesempatan lain, ia berkumpul dengan seniman-seniman Aceh, bernyanyi dengan iringan rapa’i (perkusi) dan serune kale (seruling).

Obsesinya menerbitkan album musik Aceh secara serius dengan kualitas yang bersaing di pasaran sejak dulu ada. Hampir tiada hari terlewatkan tanpa memikirkan atau mendengarkan musik, lagu, dan syair Aceh.

Untuk mewujudkan impiannya, bertahun-tahun ia mengumpulkan syair dan lagu tradisional Aceh. Hingga pada suatu ketika ia membeli tiga kaset loakan di sebuah toko mebel di Takengon. Salah satunya berisi syair Nyawoung yang dilagukan dengan iringan band. “Menjelang rekaman, baru kami temukan penulis syairnya. Almarhum Di Husen, guru mengaji di Banda Aceh,” tutur Jauhari.

Bukan hanya menelusuri siapa penulisnya, syair atau lirik lagu yang akan direkam diupayakan berbahasa Aceh murni. Untuk urusan bahasa ini, Jauhari banyak berkonsultasi dengan budayawan Hasyim KS.

Kerja serius Jauhari akhirnya membuahkan dua album, Nyawoung (2000) dan Bungong (2002), yang bernuansa khas Aceh yang dinamis, agamis, dan heroik. Masing-masing album diproduksi sebanyak 5.000 kaset. “Jangan ditanya berapa untungnya karena dasarnya hanya idealisme, bukan dagang,” ungkapnya.

Pemusik Sapto Raharjo menyebut hasil kerja Jauhari dan kawan-kawan sebagai gerakan kebudayaan yang benar-benar luar biasa. Ya, lebih dari sekadar musik!  (Nasru Alam Aziz)

KOMPAS, Selasa, 18-01-2005. Halaman: 12


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: