Beranda » GAYO DI HATI » KATAKAN GAYO DENGAN KARYA 2 » Ada Kisah di Lantunan Lagu Gayo Ivan Wy

Ada Kisah di Lantunan Lagu Gayo Ivan Wy

Senin, 14 Mei 2012 19:30:00 WIB

joeRatusan kursi diwarung yang berukuran kurang lebih 200m x 100m itu, sudah tersusun rapi. Satu-satu pengunjung datang mengambil tempat strategis, mereka seperti mempersiapkan diri untuk sebuah pertunjukan spesial yang di gelar sabtu, malam minggu, 12 Mei 2012 lalu di Warung Kopi Wahana Apresiasi (wapres) Kota Takengon.

Hanya dalam tempo 20 menit setelah adzan Isa berkumandang, seluruh kursi hampir penuh. Namun di panggung berukuran kecil itu pun sudah terpajang alat musik Akustik, dengan latar sebuah Backdrop bertuliskan “Panggung Rindu Akustika Ivan Wy”, ya penyanyi Gayo Ivan Wy yang ditunggu sejak lama menyanyikan lagu-lagunya secara langsung.

Kenapa Ivan Wy begitu penting? itulah pertanyaan yang kemudian mengalir pada panitia pelaksana. Aan Ilyas yang mengelola acara itu menyebutkan, kalau penyanyi Ivan Wy memang terbilang penting, dan perlu disiapkan panggungnya. Menurut Aan hampir seluruh penyanyi Gayo tidak memperoleh panggung yang layak, sehingga pihaknya menyelenggarakan acara tersebut secara “gotong royong”.

“Inilah acara kedua “Katakan Gayo dengan Karya”. Bulan lalu kita pentaskan penyanyi etnik Gayo Ujang Lakiki, dan bulan Mei ini kita hadirkan Ivan Wy, kedepan lain lagi,” kata Aan kepada The Atjeh Post.

Tepat pukul 20.30, Ivan Wy memulai nyanyiannya. Penampilan Ivan menggunakan kostum putih-putih itu mengawali Lagu “Denang” (nyanyikan) sebagai lagu pembuka, karena lagu itu persalaman yang berkisah tentang seniman dan seni yang meminta izin kepada seluruh undangan. Ivan mendendangkannya menggunakan sebuah gitar akustik saja, karena memang tidak ada latihan memakai akustik full band.

Lagu perlagu terus mengalir. Ivan menyanyikan langsung 4 lagu berturut-turut dari album terbarunya, dan diaplaus hebat kalangan muda yang ikut memenuhi pojok kiri panggung di warung itu. Ivan juga menyinggung kalau lagu-lagu yang dia nyanyikan sekarang memang belum akrab, tetapi sudah berada dimana-mana kendati belum dilempar ke pasar. Disaat itulah Ivan meminta kepada praksisi hukum Amna Zalifa, SH, MH. menyampaikan penjelasan seputar karya-karya seni di Gayo yang terkait dengan perlindungan Hak Cipta.

****

Amna Zalifa yang tampil sederhana lantas menyampaikan beberapa hal penting menyangkut karya seni, termasuk mengenai hak cipta. Katanya, di Gayo sekarang sangat diperlukan sebuah badan untuk pendataan dan perlindungan karya seni, sejarah, dan benda peninggalan masa lalu, agar seniman tidak perlu jauh-jauh mendaftarkan karya seninya.

“Persoalan siapa yang akan mengelola lembaga itu bukan hal yang penting, tetapi mari kita beri pemahaman soal hak cipta itu sendiri, karena hak cipta punya hitungan tersendiri serta masa berlakunya,” kata Amna Zalifa.

Amna Zalifa adalah seorang Master hukum lulusan Universitas Syiah Kuala, sekarang dia bekerja sebagai dosen di Kampus Muhammyah Takengon, juga aktif di LBH Apik. Pada malam “Panggung Rindu Akustika Ivan Wy” (Katakan Gayo dengan Karya) Amna Zalifa dipercaya sebagai pembicara spesial tentang Hak Cipta Seni di Gayo.

Berselang beberapa saat, begitu Amna mengahiri kata-katanya tentang hukum, Ivan Wy menyambutnya dengan lagu berjudul ‘Pelanuk” (kancil). Lagu ini berkisah soal akal orang-orang yang sudah berubah, serta Ivan mengkritisinya dengan lagu bagaimana orang yang selalu mengurusi pekerjaan orang, padahal itu tidak perlu.

Memasuki sesi kedua lagu-lagu Ivan mulai menyentuh, karena lagu-lagu yang dinyanyikannya sudah dikenal oleh sebagian besar orang Gayo, terutama beberapa lagu Cinta yang memang digemari kaum ibu. “Kalang Memang, sebuah lagu cinta. Mencari perempuan tidak perlu cantik, tetapi harus menarik. kalau menarik itu sudah pasti cantik dan tidak membosankan,” kata Ivan tentang lagunya itu.

Suara besar Ivan mengalun lagi, sebagian besar penonton seraya bertepuk mengikuti irama, dan malah ada yang ikut bernyanyi. Dan Ivan pun lantas melantumkan lagu sampai 3 lagu. Disesi ini Ivan berhenti, dan dengan cepat dia meminta sahabatnya Firdaus Chalid naik ke pentas, karena Firdaus dipercaya bicara Gayo karena pengalamannya didunia fotografy sudah mencapai 40 tahun, dan bisa dibilang banyak pengalamannya melihat Gayo secara utuh.

“Ini acara luar biasa, karena tidak seperti biasa yang tidak melibatkan fotografer,” kata Firdaus sebelum mengkaji pengalamannya menjadi fotografer.

Hanya berbicara beberapa menit saja, lantas Firdaus menyudahinya. Lantas Ivan Wy menjelaskan kalau firdaus adalah orang pertama yang dia kenal sebagai fotografer di Takengon, dan setahu Ivan, Firadus sangat pantang mendengar lagu Ayah milik Ebiet G Ade, karena akanmembuat laki-laki berusia 61 tahun ini menangis. Firdaus pernah berkisah, setiap kali dia memotret orang tua, lagu itu terbayang, dan Firdaus sendiri langsung mengingat pada ayahnya. Disitulah kerap firdaus menangis sambil memotret.

Lantas musik kembali mengalun, kali ini Ivan benar-benar mempersembahkan Cinta kepada pengunjung Wapres. Lagu Gayo anyar seperti Tajuk (bunga), Muninget (teringet), Oteh (Panggilan kepada sesorang) dan Ike (kalau) mengalun dengan lembut dan mengalun. “Lagu-lagu ini buat kekasih yang datang dan pergi,” kata Ivan.

Namun belum selesai Ivan melantumkan lagu-lagunya, dimenghentikan sejenak bernyanyi dan memberi komentar pada seseorang yang hadir pada malam itu, Moersyid Sabdin, seniman Gayo asal Jakarta yang produktif membuahkan karya.

Moersyid Sabdin dikenal sebagai penyanyi yang banyak menciptakan lagu Gayo. Dia juga Adik kandung (Almh) AR Moese, seniman legendaris asal Gayo. Moersyid juga yang mendorong Group Band Nasional Antik yang terkenal dengan lagu hits “sebuah bintang”, dan dalam album Gayo miliknya, Moersyid bernyanyi bersama Antiq kemudian melahirkan satu lagu Blues yang kemudian populer “Mukale” (Rindu), dan dia nyanyikan di malam Panggung Rindu Akustika Ivan Wy.

Moersyid menyanyikan 3 lagu sekaligus, dan semua lagunya dikenal pengunjung Caffe. Selain mukale ada lagu Kuyu (angis), dan Suret (surat).

Satu lagu terakhir Ivan Wy, Kala Memang, rupanya tak membikin puas. Walau MC sudah mengakiri acara, namun penonton tetap meminta tambah, dan betul saja Ivan pun menyanyikan sebuah lagu penghargaan kepada AR Moese berjudul “Jempung” (Sekam padi yang baru dipanen). Lagu itupun mengalun dinyanyikan secara khas dan diikuti bersama oleh penonton. Hingga akhirnya Ivan menyudahinya. Dan sebagian besar penonton mengaku terkesan, Gayo memang kreatif. Begitu kata penonton Panggung Rindu Akustika Ivan Wy. [JAUHARI SAMALANGA] ATJEHPOST.com

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: